
Sudah menjadi pemandangan yang biasa ketika ada orang meninggal dunia, maka dipastikan keluarga terdekat beserta para pelawat akan mengantarkan jenazah tersebut hingga ke peristrahatan terakhirnya.
Namun yang paling menarik dari prosesi antar jenazah adalah sikap kurang terpuji yang kerap ditampilkan oleh para pengantar jenazah tersebut.
Naik motor ugal-ugalan, boncengan tiga, tidak menggunakan helm serta mengoyang-goyangkan tongkat bendera seenaknya. Itulah hal yang sering kita temui ketika berpapasan dengan para pelayat dijalanan.
Hampir seluruh badan jalan dikuasai oleh pengantar sehingga pengguna jalan yang lain otomatis berhenti dan dipaksa meninggalkan jalur jalan. Tak sampai disitu, jika ada pengguna jalan yang juga ngotot menggunakan jalurnya, maka pengantar jenazah yang bergerombol biasanya tak segan-segan menghalau pengendara mobil atau sepeda motor dengan kayu/tongkat yang di bawahnya.
Seolah-olah jalan ini hanya miliknya, padahal jenazah yang mau diantar tidak mengharapkan diantar secara bergerombol sambil ugal-ugalan mengganggu pengguna jalan yang lain.
Inilah yang dikisahkan oleh seorang netizen yang mengalami hal yang sama, melalui akun facebook miliknya, netizen bernama Handri Greyven membagikan pengalaman buruknya saat berpapasan dengan sejumlah oknum pengantar jenazah di kota Manado.
Tak lupa pesan itu juga dibagikan Hendri ke Tim Paniki Polresta Manado melalui akun facebook. Kejadian tersebut sebagaimana dikutip dari Tribunnews berawal dari iring-iringan jenazah yang hendak mengantar keluarganya yang meninggal ke pemakaman.
Ulah pengantar jenazah via Tribun
Barusan terjadi. Sekitar 15 menit yang lalu saya dgn menggunakan mobil dari jalan sea menuju kampus melalui jalan belakang (air terang krida, bahu) dan kebetulan berpapasan dengan konvoi pengantar jenazah.
Mobil saya sudah saya hentikan di pinggir jalan guna memberikan mereka jalan (padahal jalan sepi) tapi dengan tidak saya sangka konvoi pengantar jenazah tersebut dengan penuh arogansi tetap memukul kaca spion saya dan memainkannya, ada yg mengejek saya yang pada waktu itu masih di dalam mobil.
Saya hanya bisa terdiam. Kemudian stelah konvoi tersebut lewat saya melanjutkan perjalanan saya, baru berjalan beberapa detik mobil dengan kecepatan penuh bagian dari konvoi ini begitu ugal2 dan menyenggol kaca spion saya lagi untung tidak patah. Saya diam saja.
Saya lanjutkan perjalanan saya, sekitar 50 meter berjalan didepan saya melihat sopir taxi blue b*rd sedang memperbaiki kaca spionnya, saya kemudian singgah dan bertanya, ada apa pak? Sopir taxi itu menjawab dgn mata yg berkaca kaca dan dgn muka yg sedih, “konvoi antar jenazah tadi ada kase patah kita p kaca spion, padahal kita so ba pinggir”.
Saya hanya bisa geleng2 kepala. Apa ini yg namanya toleransi dan saling menghormati antar pengguna jalan raya? Apa tidak ada UU untuk hal anarkis seperti ini? ?#?miris
Tak pelak postingan Hendri pun memicu netizen bereaksi atas apa yang telah dialami Hendri, bahkan ada beberapa netizen yang mengaku pernah mengalami hal yang sama ketika berpapasan dengan para pengantar jenazah di jalanan di Kota Manado
“Bukan cuma kaca spion leh Vya..qt p anak b sudara drg so pukul kg drg amper tikang..klo dia nda lari bgni mati…Padahal dia so b pinggir…(bukan cuma kaca spion, saudara saya mereka pukul bahkan hampir ditikam. kalau dia tidak lari pasti mati),” tulis netizen.
“Trg leh pernah tbaku dpa pas dmka gedung keuangan, xo b pnggir sx konk b plang2 drg paka d helm.bae ad ttup kaca bgni kena mata. anarkis sx tu jga antar2 jenazah konk mdel bgtu, drg p kira tu jln drg ad bkg cma for antar2 org mati stow. (kami juga pernah berpapasan saat di depan gedung keuangan. Sudah menepi dan jalan perlahan, mereka pukul di helm. Untung saja kaca ditutup, kalau tidak pasti kena mata. Anarkis sekali mereka yang antar jenazah macam begitu, mereka pikir jalan hanya dipakai untuk mereka antar orang meninggal saja,” tulis netizen.
Usut punya usut aksi anarkis para mengantar jenazah ini bukanlah yang pertama kali tejadi di Manado, aksi sok jagoan tersebut sering terjadi di Kota Tinutuan ini.
Harus dipahami, bahwa mengantar jenazah adalah bagian dari ibadah, paling tidak pengantar bisa paham dan mengerti kalau setiap manusia akan mengalami kematian sehingga beramal kebajikan menjadi pilihan kesuksesan dunia akhirat.
Padahal jenazah yang mau diantar tidak mengharapkan diantar secara bergerombol sambil ugal-ugalan mengganggu pengguna jalan yang lain.
Bagaimana menurutmu? Punya pengalaman serupa? Bagikan dan berikan komentarmu!
Source : Tribun