Skip to main content

BANTU SHARE..!!! Kelompok Syiah Rencanakan "Revolusi" Tahun 2018


Isu konflik Syiah-Sunni di Indonesia kembali menghangat setelah penyerangan sekelompok preman yang mengaku penganut Syiah ke kampung Majelis Az-Zikra, pimpinan Ustadz Arifin Ilham, di Sentul, Kabupaten Bogor, Rabu  (11/02/2015). Ada beberapa analisa terkait "Insiden Az-Zikra". Beberapa pengamat politik menyangsikan bahwa "Insiden Az-Zikra" adalah murni konfik antara pengikut Syiah dan Ummat Islam Indonesia. Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Fajar Riza Ul Haq, mengatakan, terdapat kejanggalan dalam penyerangan ke kampung Majelis Az-Zikra, pimpinan Ustadz Arifin Ilham. "Insiden harus disikapi dengan pikiran jernih. Ada beberapa kejanggalan," katanya, di Jakarta, Kamis (12/02) mengutip laman Republika.co.id. Dia mengatakan kejanggalan tersebut yaitu pertama, selama ini belum pernah terjadi penganut Syiah melakukan aksi intimidasi apalagi teror terhadap kelompok-kelompok mayoritas. Kedua, Syiah di Indonesia sedang dalam sorotan seiring konflik-konflik sektarian di Timur Tengah yang melibatkan kelompok Syiah dan Sunni. Fatwa sesat yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia, dikatakan dia, telah membuat Syiah dicurigai dan mudah untuk dikambinghitamkan. Namun penyataataan Fajar Riza Ul Haq, dibantah oleh pengamat dari ICAF (Indonesian Crime Analyst Forum), Mustofa B. Nahrawardaya dalam siaran persnya. Menurut Mustofa, penyerangan oleh sekelompok intoleran yang mengaku dari pembela aliran Syiah ke kompleks Masjid Az-Zikra pimpinan Ustadz M. Arifin Ilham,  sama sekali tidak ada kejanggalan. Penyerangan intoleran semacam itu sudah sering terjadi. "Hanya saja, kali ini pelakunya bukan dari kelompok mayoritas, namun justru dari kelompok pembela minoritas yang merasa dihina," jelas Mustofa B. Nahrawardaya dalam siaran persnya (Sabtu, 14/2), seperti dikutip Mediawarga,info dari RMOL. Mengapa tidak ada kejanggalan? Pertama, Mustofa menjelaskan, masyarakat Indonesia terlanjur dibiasakan oleh kondisi dan situasi, dimana ada stereotip bahwa biasanya yang menyerang adalah pihak mayoritas dan korbannya minoritas. Stereotip ini sangat berbahaya karena akhirnya menjadi kesimpulan publik yang sesat, seolah dalam sejarah hanya minoritas yang selalu menjadi korban kekerasan. "Akibat yang lebih buruk barangkali, aparat cenderung terpengaruh karena kejadian minoritas menyerang mayoritas dianggap tabu. Bahkan akan dianggap sebuah kejanggalan. Padahal itu adalah fakta," ungkap Mustofa. Kedua, sangat mungkin memang yang terjadi di Az-Zikra adalah kebalikannya. Alasannya pun logis. Hampir semua orang paham bahwa kelompok minoritas (dalam hal ini Syiah), pada saat pemerintahan sekarang ini jelas sedang mendapatkan tempat dan peluang untuk berkembang dan mendapatkan perlindungan dari negara. Meskipun, keberadaannya mendapatkan penolakan mayoritas Islam yang menganggap Syiah sebagai aliran sesat. Ketiga, kelompok Syiah beserta pendukungnya yang dianggap minoritas di Indonesia, kemungkinan sedang merasa kuat karena beberapa tokoh Syiah kini sedang berada di posisi strategis pejabat Negara. "Ada yang menjadi anggota DPR, bahkan beberapa diantaranya bekerja di lingkungan orang-orang yang dekat orang nomor satu Indonesia. Beberapa tokoh Syiah yang berprofesi sebagai seniman, artis, dan tokoh publik lainnya, maupun ulama, sebagian sudah mulai berani keluar kandang untuk memperkenalkan dirinya sebagai Syiah," bebernya. Penganut Syiah Sedang Mempersiapkan Revolusi di Indonesia? Menyikapi hal tersebut, saya sebagai Citizen Reporter semakin tertarik dengan informasi eksistensi kelompok Syiah di Indonesia. Momentum datang ketika saya bisa bertemu dengan seorang Ulama dalam sebuah pengajian belum lama ini (tidak akan saya sebutkan namanya, demi keamanan beliau). Menurut Ulama yang cukup punya nama dikalangan aktivis Islam ini, Indonesia mayoritas Islam Sunni, tapi posisinya di ujung tanduk. Menurut beliau, dari data Badan Intelijen Negara (BIN) yang diterimanya, Indonesia akan menjadi Suriah kedua pada tahun 2018-2020. Kelompok Syiah di Indnesia saat ini sedang menyusun kekuatan untuk melakukan sebuah "Revolusi" di Indonesia pada 2018. "Saat ini di Indonesia, kaum Syiah sudah memiliki 10 ribu pemuda yang terlatih secara militer. Mereka dilatih oleh para Imigran gelap dari Timur Tengah yang tersebar di berbagai kota Indonesia. Jumlah Imigran gelap Syiah sejumlah 6500 orang (yang tercatat), mereka berbadan tegap dengan style militer. Ada info mereka sengaja didatangkan ke Indonesia atas bantuan Intelijen AS dan dedengkot Syiah Indonesia". Ungkap beliau. Katanya, untuk mempersiapkan revolusi mereka, tahun ini ada ulama Syiah asal Indonesia akan pulang dari Iran (se-level Ayatullah), dibarengi 4000 pelajar Indonesia bergelar Master yang mendapat beasiswa dari Iran. "Ini data intelijen yang valid". Tegasnya. Beliau menambahkan, para Ulama, merasa kecewa dengan Menteri Agama Indonesia sekarang, karena tidak memberi kata sambutan dalam buku tentang kesesatan ajaran Syiah yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI), namun beliau (Menteri Agama-Red) malah memberikan kata sambutan dalam buku tandingan yang dikeluarkan oleh Kelompok penganut Syiah Indonesia. "Akhirnya, Menteri Agama mengakui kekeliruannya, dan meminta maaf secara terbuka kepada Ummat Islam karena khilap telah memberikan kata sambutan dalam buku yang diterbitkan kelompok Syiah Indonesia" Ungkap Ulama yang lama bermukim di Mesir dan jebolan Universitas Al-Azhar ini. Beliau menghimbau kaum Muslimin, agar  menjaga keluarga dari bahaya ajaran sesat Syiah. "Kita jaga anak-anak kita, khususnya para Muslimah Sunni, agar tidak terpengaruh ajaran Syiah. Jangan remehkan kekuatan Syiah, mereka sudah merebut Suriah, Irak, Lebanon dan Yaman. Mereka saat ini sedang mencoba kudeta di Bahrain, Kuwait dan AlJazair" Pungkasnya. Benarkah Kelompok Syiah akan melakukan makar di Indonesia? Diluar benar tidaknya, kita harus tetap waspada. Belajar dari pengalaman di Suriah, Irak dan Yaman, negara-negara tersebut mayoritas beragama Islam Sunni, namun sekarang pemerintahannya dikuasai oleh Kelompok Syiah. Mungkin saja terjadi di Indonesia...Ingat rakyat Iran dulu mayoritas beragama Islam Sunni selama berabad-abad.

sumber : Muhammad Ridwan-Citizen Reporter di www.mediawarga.info

Popular posts from this blog

JANGAN ISI ULANG Botol Plastik Bekas Air Minum! INI BAHAYANYA

Banyak botol air minum yang terbuat dari plastik mencantumkan kode label yang menginformasikan bila botol itu tidak disarankan untuk di isi lagi. Hal semacam ini butuh di perhatikan lantaran paket plastik yang disebut di buat cuma untuk sekali pakai serta janganlah dipakai berulang-kali untuk wadah minuman. Banyak orang tidak paham serta tak perduli dengan label itu. Biasanya label pada botol paket plastik itu berbentuk logo serta angka-angka yang memanglah sedikit di ketahui oleh orang-orang juga sebagai customer. Di bawah ini beragam jenis type plastik yang butuh di ketahui BERBAGAI MACAM PLASTIK Biasanya plastik paket mempunyai kode sebagai berikut ini, serta pada paket berupa botol kode itu umumnya terdapat dibagian bawah. 1. PETE atau PET  (polyethylene terephthalate) labelnya berbentuk angka 1 dalam segitiga umum digunakan untuk botol plastik yang transparan/tembus pandang seperti botol air mineral. Botol-botol dengan bahan ini direferensikan cuma untuk sekali gunakan. ...

Sekarang Banyak Dilanggar, Dua Suara yang Dilarang Rasulullah Ini

Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan sesuatu, pastilah sesuatu itu baik bagi umatnya. Sebaliknya, jika beliau melarang sesuatu, pastilah sesuatu itu buruk bagi umatnya. Namun, sering kali manusia tidak mengindahkan petunjuk dan larangan yang telah digariskan beliau. Banyak perintah yang tidak ditaati dan banyak larangan yang dilanggar. Di antaranya, dua larangan berikut ini. اِنَّمَا نَهَيْتُ عَنْ صَوْتَيْنِ أَحْمَقَيْنِ فَاجِرَيْنِ صَوْتُ مِزْمَارٍ عِنْدَ نِعْمَةٍ وَ صَوْتُ رَنَّةٍ عِنْدَ مُصِيْبَةٍ “Sesungguhnya aku melarang dua suara yang paling bodoh dan keji, yakni suara seruling ketika sedang mendapat nikmat dan suara tangis yang keras ketika mendapat musibah” (HR. Tirmidzi dan Baihaqi; hasan) Suara seruling ketika sedang mendapat nikmat Alangkah sering hal ini dilanggar oleh umat Islam. Seakan-akan dianggap hal yang biasa dan boleh-boleh saja. Padahal sesungguhnya ini dilarang Rasulullah dan digelari dengan paling bodoh dan keji. Kita li...

Ini Dia alasan Kenapa Uang Panaik dan Mahar Harus Mahal.

Namun kalau kita melihat dari perspektif lain yang tidak melulu negatif pernikahan bugis , yakni membuat para lelaki bugis berusaha sedemikian rupa untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah dalam pernikhan dan berumah tangga kelak.   Banyak dari masyarakat luar dari Sulawesi selatan mencibir pernikahan Bugis, Karena mahalanya mahar dan uang panai yang harus di berikan untuk saat ini berkisar puluhan hingga ratusan juta rupiah. mereka beranggapan seolah-olah sedang membeli anak gadis nya orang lain. Pernikahan bugis dan makassar bai sebagian orang sangat memberatkan. Mengingat besarnya jumlah uang panai atau uang belanja bagi pihak mempelai pria yang harus di bayarkan kepada mempelai wanita. Mestinya bukannya mahanlnya yang dipersoalkan namun hakikatnya nikah bugis dan makassar adalah mempertemukan dua keluarga besar dengan segala identitas dan status sosial. Selain itu juga sebagai melestarikan garis silsilah di masyarakat. Dari hal ini lahir lah yang namanya perantau , atau...