TRIBUN-TIMUR.COM
- Sejatinya, rezeki merupakan karunia yang terjamin.
Rezeki
merupakan pemberian dari Allah Swt kepada semua makhluk-Nya.
Jika
binatang melata saja pasti diberi rezeki dari-Nya, lebih-lebih lagi manusia yang
disebutkan sebagai makhluk paling sempurna karena memiliki fisik yang bagus,
akal untuk berpikir, dan hati untuk merasakan kebaikan atau keburukan.
Di
tahap ini, seharusnya tak perlu mengkhawatirkan soal pembagian rezeki.
Sebab
hal itu merupakan Kuasa Allah Swt yang tak bisa dicampuri.
Maka,
kemisterian rezeki tentang jumlahnya, cara pemberiannya, dan kapan
diberikannya; seharusnya tak perlu membuat seseorang-apalagi orang
beriman-pusing memikirkannya.
Namun,
saat di satu sisi seorang Muslim diminta meyakini dengan jatah yang diberikan
oleh Allah Swt, mereka juga dianjurkan untuk melakukan kerja-kerja professional
agar bisa menguasai perbendaharaan dunia.
Tujuannya
bukan untuk menumpuk harta atau bermewah-megah.
Tetapi
untuk memakmurkan bumi dan semakin meneguhkan perannya sebagai khalifah di muka
bumi.
Beruntungnya,
saat Allah Swt memerintahkan kaum Muslimin untuk bertebaran di muka bumi guna
mengunduh karunia-Nya.
Dia
juga telah membeberkan kiat-kiat yang kudu ditempuh.
Kiat-kiat
agar rezeki berlimpah itu, tersebar di banyak ayatAlquran.
Salah
satunya sebagaimana terdapat dalam surat al-Maidah.
Di
dalam ayat 66 surat kelima dalam Alquran ini, Allah Ta’ala menyebutkan,
“Niscaya mereka akan mendapatkan makanan dari atas dan bawah kaki mereka.”
Allah
Ta’ala akan mencurahkan rezeki dari langit dengan menurunkan hujan dan sinar
matahari untuk pertumbuhan hewan dan tumbuhan, juga mengeluarkan rezeki dari
dalam bumi dengan penyimpanan air dan zat-zat yang dibutuhkan oleh tanaman dan
hewan yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan umat manusia.
Imam
Ibnu Katsir mengatakan, “Mereka mendapatkan rezeki yang melimpah dari langit
dan juga dari bumi.” Sedangkan ‘Abdullah bin ‘Abbas menjelaskan, “Niscaya Aku
(Allah) akan menurunkan hujan yang sangat deras dari langit kepada mereka.”
Lantas,
siapakah yang dimaksud dengan ‘mereka’ dalam ayat ini?
Siapakah
sosok yang pasti dilimpahi rezeki dari langit dan bumi oleh Allah Swt sebagai
sebaik-baik pemberi rezeki?
Allah
Swt berfirman dalam potongan ayat sebelumnya, “Dan sekiranya mereka
sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Alquran) yang
diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapatkan makanan
dari atas dan bawah kaki mereka.”
Syarat
dari berlimpahnya rezeki sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas adalah,
“Seandainya mereka mengerjakan apa yang terdapat di dalam kitab-kitab yang
berada di tangan mereka dari para Nabi sebagaimana adanya; tanpa melakukan
penyimpangan, pergantian, dan pengubahan.”
Jika
orang-orang Nashrani dan Yahudi melakukan hal ini, maka mereka akan mengimani
semua ajaran yang terdapat di dalamAlquran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa sallam. Sebab, di dalam Taurat dan Injil terdapat kabar
yang membenarkan bahwa akan ada Nabi terakhir yang diutus kepada umat manusia,
dan orang Yahudi serta Nasrani wajib mengimaninya.
Konsep langit ini juga
berlaku bagi kaum Muslimin.
Bahwa ketaatan kepada
Allah Swt adalah kunci yang menjadikan rezeki berlimpah.
Tetapi, jangan sampai
salah niat.
Sebab, ada banyak kaum
Muslimin yang menukar amalan akhirat dengan pencapaian dunia.
Yang benar, ikhlas dan
fokusklah kepada amal untuk akhirat, maka dunia akan mengikuti.
Dan, Allahlah sebaik-baik
pemberi rezeki.
